JAKARTA- Rentetan bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir menimbulkan dampak luas terhadap masyarakat, infrastruktur, lingkungan, hingga aktivitas ekonomi. Gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta erupsi gunung api menjadi rangkaian kejadian yang terjadi berdekatan.
Gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu bencana dengan dampak besar. Lebih dari 70 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.100 lainnya terluka. Puluhan ribu rumah mengalami kerusakan, termasuk belasan ribu unit yang masuk kategori rusak berat.
Kerusakan juga melanda 165 puskesmas, 12 rumah sakit, dan 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Sebanyak 502 sekolah mengalami rusak berat hingga mengganggu kegiatan belajar mengajar. Ratusan tempat ibadah, kantor pemerintahan, pasar, jembatan, dan sarana irigasi turut terdampak.
Karhutla di sejumlah provinsi juga memberikan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Kabut asap meningkatkan risiko ISPA, asma, dan PPOK, sementara kebakaran merusak hutan serta mengancam flora, fauna, dan habitat satwa liar. Hilangnya tutupan hutan juga meningkatkan risiko banjir, erosi, dan longsor serta menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
Kabut asap pekat turut mengganggu aktivitas darat, laut, dan penerbangan akibat terbatasnya jarak pandang. Polusi udara juga berpotensi terbawa angin hingga negara tetangga.
Sementara itu, erupsi enam gunung api pada awal September berdampak pada transportasi udara dan aktivitas masyarakat. Sejumlah bandara melakukan penyesuaian operasional atau ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma.
Sebaran abu vulkanik, terutama dari Gunung Anak Krakatau, dilaporkan mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki dan berdampak ke Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Lampung. Sejumlah daerah juga mengalami hujan abu tipis yang mengganggu aktivitas luar ruangan.




